BISNIS

FAA Tegaskan, Tidak Akan Izinkan Boeing B737 MAX Kembali Terbang

Rabu, 27 November 2019 13:00
Penulis : Beny Adrian
FAA Tegaskan, Tidak Akan Izinkan Boeing B737 MAX Kembali Terbang

Pesawat B737 MAX PK-LQP milik Lion Air. Foto diambil enam minggu sebelum jatuh. Sumber: wikipedia

Angkasa.news – Untuk ketiga kalinya dalam dua minggu terakhir, Badan Penerbangan Federal (FAA) Amerika Serikat telah mengumumkan secara terbuka bahwa mereka tidak akan memberikan izin kepada pesawat Boeing B737 MAX kembali melayani penerbangan sampai pihak terkait mengambil semua langkah dan menganggap semuanya sudah aman.

“FAA belum menyelesaikan ulasannya tentang perubahan desain pesawat 737 MAX dan pelatihan pilot terkait. Badan ini tidak akan menyetujui pesawat untuk kembali ke layanan sampai telah menyelesaikan banyak tingkatan pengujian yang ketat,” seperti dilaporkan CNBC mengutip FAA.

“Penerbitan Sertifikat Kelaikan Udara (Airworthiness Certificate) adalah tindakan akhir FAA yang menegaskan bahwa setiap 737 MAX yang baru diproduksi layak terbang,” tambah FAA.

“FAA sepenuhnya mengendalikan proses persetujuan,” jelas Administrator FAA Steve Dickson. Ia baru-baru ini menulis dalam sebuah surat internal sebagai tanggapan atas pernyataan Boeing tentang kemungkinan dimulainya kembali layanan 737 pada Desember ini.

Sebelumnya pada November, Dickson mengunggah video banding kepada staf FAA dengan mengatakan, “Saya akan mendukung waktu yang Anda butuhkan untuk melakukan proses yang menyeluruh dan disengaja untuk memastikan pesawat aman diterbangkan”.

Menurut CNBC, uji coba simulator Human Factors Testing dan Joint Operational Evaluation Board dengan pilot harus dilakukan untuk memberikan izin kepada pesawat kembali terbang.

Setelah dua kecelakaan pesawat B737 MAX yang mematikan di Indonesia dan Ethiopia, otoritas penerbangan dan operator di seluruh dunia merumahkan semua pesawat seri 737 MAX atau menutup wilayah udara mereka dari pesawat ini.

Persisnya Oktober 2018, Boeing B737 MAX milik Lion Air jatuh di perairan Karawang di Indonesia. Setengah tahun kemudian, pesawat sejenis kembali jatuh di Ethiopia.

Kedua tragedi ini merenggut nyawa total 346 orang.

Penyelidikan selanjutnya mengungkapkan bahwa kesalahan pada fungsi Maneuvering Characteristics Augmentation System (MCAS) kemungkinan menjadi penyebab kecelakaan.



Komentar