BISNIS

23 Tahun Berlalu Sejak 1996, Akankah 'Indonesia Air Show' Kembali Digelar di Jakarta?

Rabu, 07 Agustus 2019 10:18
Penulis : Beny Adrian
23 Tahun Berlalu Sejak 1996, Akankah 'Indonesia Air Show' Kembali Digelar di Jakarta?

Gambar IAS 96 di kartu telepon yang menjadi produk unggulan Telkom masa itu.

Angkasa.news - Kalaulah boleh berandai-andai krisis ekonomi disusul sosial dan politik tidak melanda Indonesia pada 1997, bisa jadi gelegar mesin-mesin pesaawat tempur atau warna-warni asap yang dimainkan tim-tim aerobatik papan atas dunia, kembali menghiasi langit Jakarta.

Sekali lagi, sayang beribu sayang. Pameran bertajuk Asia-Pacific Hightech and Aerospace Show (APHAS) 1998 yang sengaja dipromo saat berlangsungnya Indonesia Air Show 1996 (IAS 96), urung digelar.


Jika dihitung per hari ini, 23 tahun sudah IAS 96 berlalu. IAS 96 yang digelar 22-30 Juni 1996 tetap jadi kenangan terindah hingga saat ini. Dunia benar-benar melhat Indonesia sebagai kekuatan baru kedirgantaraan.

Walau pesawat pembom siluman Lockheed F-117A Night Hawk dan Northrop-Grumman B-2A Spirit batal hadir dan hanya diwakilkan seniornya pembom supersonik Rockwell B-1B Lancer, ajang pameran kedirgantaraan kedua Indonesia itu tetap mencuri perhatian dunia. Terbukti dalam acara pembukaan, semua kursi tamu dan undangan terisi penuh. Bahkan yang telat, harus rela berdiri.

Bagi Indonesia, penyelenggaraan IAS 96 tak lepas dari sebuah skenario besar untuk menyejajarkan Indonesia di panggung dunia. Rencana yang kalau dirunut ke belakang tak lepas dari master plant pemerintahan Orde Baru sejak dimulainya era kedirgantaraan pada 1976.

Kala itu, pemerintah meresmikan pabrik pesawat terbang di Bandung dengan nama PT Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN), menggantikan nama sebelumnya PT Nurtanio. Sejak saat itu, secara ambisius pemerintah menyusun langkah-langkah taktis strategis merancang-bangun pesawat lewat kerjasama dengan pabrik pesawat terbang Spanyol CASA, yaitu CN235 Tetuko.

Secara simbolis, IAS 96 dibuka Presiden Soeharto dengan tembakan pistol isyarat pada Sabtu, 22 Juni 1996 di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta dan berlangsung hingga 30 Juni. Hadir Wakil Presiden Try Sutrisno, PM Kamboja Pangeran Ranarridh, sejumlah menteri dan Panglima ABRI beserta jajarannya.

Saat menembakkan pistol menandai pembukaan itu, Soeharto didampingi Ketua Umum Komite Nasional IAS 96 BJ. Habibie, Gubernur DKI Surjadi Sudirja, dan Ketua Pelaksana Harian IAS 96 Thareq Kemal Habibie.

Kejadian hari itu mengulangi persis 10 tahun sebelumnya, ketika Presiden Soeharto menembakkan pistol sebagai tanda dibukanya IAS 86 di Bandara Kemayoran pada 23 Juni 1986.

Dalam pidatonya Soeharto antara lain mengatakan bahwa Indonesia bangga dapat menyelenggarakan pameran kedirgantaraan bertaraf internasional. Karena, saat itu, tidak banyak negara di dunia yang dapat menyelenggarakan kegiatan sejenis. Selain itu, IAS 96 juga diselenggarakan pada saat yang tepat.

Perihal tahun 1996 telah dicanangkan sebagai Tahun Bahari dan Dirgantara. “Pada tahun 96 inilah kita bangkitkan kembali semangat dan jiwa bahari bangsa kita, serta menggugah kecintaan kita terhadap dirgantara,” ujar Presiden Soeharto saat itu.

Acara pembukaan yang menggairahkan wajah Indonesia itu, dimeriahkan fly past pesawat-pesawat TNI AU. Ada F-5E Tiger II, Hawk Mk-53, dan pesawat andalan industri dalam negeri. Mulai dari NC212, CN235, helikopter NBO-105, SA-330 Puma, dan AS-332 Super Puma.

Pemandu acara dalam bahasa Indonesia dan Inggris juga tak henti-hentinya mengumumkan demonstrasi terbang pesawat komuter N-250 yang disebut sebagai Bintang Pameran IAS 96. Suasana emosional menghampiri wajah-wajah dari segenap yang hadir. Dimanapun kita berdiri saat itu di Jakarta, deru mesin jet pesawat tempur terdengar tiada henti meski terkadang sosoknya tidak terlihat. 

Sekitar sebulan menjelang dimulainya IAS 96, dunia internasional utamanya pemerhati militer, sempat dibuat geger dan diselimuti perasaan cemburu. Pasalnya, dengan tidak mengecilkan arti kehadiran tim aerobatik Red Arrows  dan Golden Dreams dari Inggris serta Elang Biru kebanggaan tuan rumah, panitia menyebut-nyebut bakal ikutnya trio pembom B-2A, F-117A, dan B-1B.

Sekadar mengingatkan, waktu itu keberadaan B-2A dan F-117A benar-benar siluman dan sangat misterius. Hanya segelintir orang pernah menyaksikan dan merasakan kehadirannya. Amerika Serikat pun sebagai pemilik, dengan sengaja mengondisikan kemisteriusan kedua armadanya ini.

Acara pembukaan itu, kata panitia, masih lagi akan dimeriahkan fly past pesawat-pesawat tempur Angkatan Laut Amerika Serikat yang take off dari kapal induk USS Nimitz.

F-117A dikabarkan akan hadir pada hari pembukaan dan dipertotonkan selama empat jam di hadapan hadirin sebelum kembali lenyap ditelan awan. Sementara B-2A yang sayapnya menyerupai sayap kelelawar raksasa, hanya akan dipamerkan selama satu jam dan akan membuat fly past. Begitu pun B-1B, akan dihadirkan.

Kemurahan hati Washington waktu itu memang mengagetkan dunia. Keikutsertaan pembom siluman itu bakal dicatat sebagai kehadiran pertamanya di Asia.

F-117A yang mampu membopong bom nuklir B61 free fall ini pertama kali diperkenalkan Amerika kepada dunia pada 1991 di pameran Le Bourget, Perancis, dengan predikat sudah battle proven dari Perang Teluk.

Setahun kemudian AS kembali memeragakan 'monster hitam' ini dalam pameran Mildenhall Air Fete, Inggris. Sejak itu, pesawat yang awalnya dinamakan LO (low observable) namun lebih populer sebagai stealth ini disembunyikan lagi dan tak pernah muncul di pameran kedirgantaraan kecuali di pameran Fly-in Oskhosh, Wissconssin, Amerika.

Hal yang sama berlaku untuk B-2A, pesawat siluman hasil kerja bareng Boeing dan Vought Aircraft serta melibatkan General Electric Aircraft Engine Group dan Hughes Training Inc. Rencana kehadirannya juga yang pertama di Asia.

Namun kenyataannya, sampai Presiden Soeharto menembakkan pistol isyarat pada hari H pembukaan IAS 96, sang primadona yang ditunggu-tunggu tak kunjung muncul di ujung cakrawala.

Memang, kedua pembom supercanggih itu tidak pernah hadir di Indonesia. Mungkin alasan politis dan ekonomis menghalangi kehadirannya atau mungkin sampai detik itu, B-2A masih menyandang status grounded akibat ditemukannya keretakan kecil pada rangkanya persis sebulan sebelum dibukanya IAS 96.

Sebagai negara berkembang yang pada masa pemerintahan Orde Baru menargetkan pelaksanaan air show sepuluh tahun sekali (paradigmanya demikian hingga IAS 96), panitia yang dikomandoi para teknokrat itu terbilang berhasil.

Setidaknya transaksi yang dilakukan mencapai 4,48 miliar dolar AS atau sekitar Rp 10,304 triliun. Senilai 2,73 miliar dolar merupakan transaksi dengan IPTN dan 1,75 miliar dolar dengan perusahaan nasional lainnya.

Sebanyak 114 pesawat dari 22 negara digelar di pelataran parkir IAS 96. Lebih dari separuhnya (59 pesawat) terbang demo (dynamic show) mengitari arena seputar kawasan Bandara Soekarno Hatta untuk menunjukkan kemampuan manuver atau paling tidak memamerkan keandalan sistem teknologi yang digunakan.

Termasuk pula di antaranya pesawat angkut B777 andalan pabrik Boeing, Concorde ikon British Aerospace dan Aerospatiale, A340 kepunyaan Airbus, N250 andalan IPTN hingga Sukhoi Su-30 dan Ilyusin IL-76 andalan Rusia yang datang dengan kekuatan penuh.

Ketakjuban para penonton semakin menjadi-jadi dengan disuguhkannya manuver aerobatik dari tim aerobatik selama 15 menit per tim atau sekitar 75 menit per hari.

Mengutip Majalah Angkasa, Captain Eddy Yuwono sebagai Flight Operation IAS 96 yang mengatur jadwal demo terbang setiap harinya menyampaikan, jumlah jam terbang yang dihabiskan selama berlangsungnya IAS 96 mencapai lebih 1.350 menit atau sekitar 150 menit per hari.

Sementara jumlah bahan bakar (Avtur/Jet A-1) yang dihabiskan sekitar 1.500.000 liter. Jumlah ini belum termasuk Avigas sebanyak 1.000 liter untuk pesawat baling-baling dan bahan bakar yang digunakan Concorde untuk terbang ke Pulau Christmas, Australia dalam acara joy flight.

Dari segi eksibitor dan pabrikan, IAS 96 yang diliput 600 wartawan dalam dan luar negeri itu juga menonjol.

Kehadiran mesin-mesin perang macam Sukhoi Su-27 Flanker, Lockheed Martin F-16 Fighting Falcon, Boeing F-15 Eagle, General Dynamics F-111 Aardvark, McDonnell Douglas A-4 Super Skyhawk hingga helikopter Westland Lynx, cukup sebagai bukti keberhasilan Indonesia memasuki panggung teknologi kedirgantaraan.

Kehadiran pesawat itu tentu juga diikuti kehadiran pihak pabrikan. Setidaknya 200-an peserta dari dalam negeri dan mancanegara mengikuti IAS 96.

Lazimnya pada setiap airshow di belahan Bumi manapun, curi-mencuri perhatian jadi kompetisi tersendiri di antara eksibitor, terutama pabrikan. Dalam kesempatan inilah, beberapa perwira TNI berkesempatan mencicipi terbang dengan penempur spektakuler Su-30.

Daftarnya mulai dari Lettu (Pnb) Agung Sasongkojati, Lettu (Pnb) Andis Solickhin, Lettu (Pnb) Budi Ramelan, Lettu (Pnb) Nyoman Budi Sedana, Letjen Soejono, Marsma Purnomo Sidhi, Marsma  Djatmiko, Marsma Irawan Saleh, dan Letkol (Pnb) Eris Herryanto.

Satu-satunya orang sipil yang diajak terbang adalah chief test pilot PT Dirgantara Indonesia (PTDI) Erwin Danuwinata.

Setahun kemudian, penerbang uji andalan ini gugur bersama tim uji PTDI dalam sebuah kecelakaan fatal saat menguji kemampuan LAPES (Low Altitude Parachute Extraction System) pesawat CN235 versi militer di Lanud Gorda, Serang, Tangerang pada 22 Mei 1997.

Maksud Rusia tentu jelas, menarik kembali perhatian Indonesia yang pernah jadi operator terbesar pesawat produksinya di belahan Selatan, untuk membeli pesawat tempurnya. Terbukti, beberapa tahun kemudian Indonesia dalam hal ini TNI AU, mengoperasikan satu skadron Su-30MKI.

Secara keseluruhan IAS 96 telah berhasil meyakinkan masyarakat Indonesia bahwa tingkat teknologi yang dikuasai Bangsa di bidang dirgantara sudah mulai diakui dunia.

Bandingkan dengan IAS 86, bisa disebut IAS 96 menunjukkan langkah maju yang pasti.

Pada IAS 86, fokus pemerintah waktu itu adalah mendemonstrasikan kepada dunia luar dan bangsa Indonesia sendiri bahwa kita sudah menginjak era industri dirgantara. Hal itu terbukti dengan pesawat CN235 hasil desain bersama dengan CASA Spanyol.

Waktu itu idenya lebih banyak ditekankan kepada teknologi dengan dukungan dana sepenuhnya oleh pemerintah. Komitmen ini memudahkan dalam pengelolaan dan penyelenggaraan.

Lalu tengoklah pelaksanaan IAS 96, sudah banyak melibatkan kerjasama dengan pihak swasta dan penggalangan dana secara profesional.

Tulisan ini hanyalah sebagai pengingat, bahwa Presiden Soeharto sudah mencanangkan Indonesia akan menggelar Indonesia Air Show sekali dalam sepuluh tahun.



Komentar